Mengenal Telemedicine

Saat ini, internet bukanlah barang asing bagi masyarakat dunia. Tak ayal, hal ini menyebabkan perkembangan telekomunikasi ke tingkat yang lebih maju. Seiring dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin meluas, bermunculanlah berbagai istilah baru yang berkaitan dengan kata “electronic” dan biasanya disingkat menjadi “e-”. Entah itu e-commerce, e-government, e-learning, e-medicine, atau e-lainnya. Walau berbeda makna, inti dari tiap istilah satu : pengaksesan suatu informasi melalui jaringan elektronik, yang dalam hal ini adalah internet.
Salah satu istilah yang cukup berkembang pesat saat ini adalah e-medicine. Seperti halnya e-lain yang bersistem online (misalnya e-commerce untuk penjualan barang secara online), e-medicine juga bersistem online dan khususnya bidang kesehatan. Salah satu contoh penerapan e-medicine adalah telemedicine.
Lalu, apa sih sebenarnya telemedicine itu? Pada dasarnya, telemedicine (yang dalam bahasa Indonesia menjadi telemedis) itu dilakukan untuk pemberian informasi dan pelayanan medis jarak jauh, dengan pemakaian video conference via satelit. Pelayanan yang diberikan bisa berupa konsultasi medis, pendidikan kesehatan, ataupun diskusi ilmiah mengenai suatu penyakit.
Banyak manfaat yang bisa diraih dari telemedicine ini. Melalui telemedicine, seorang pasien bisa berkonsultasi langsung tentang penyakitnya dengan seorang dokter tanpa harus menemui dokter tersebut secara langsung. Melalui telemedicine, seseorang bisa berkonsultasi dengan pakar menyangkut kesehatannya. Melalui telemedicine, seorang pasien bisa mendapat akses yang cukup cepat ke pusat kesehatan yang berkaitan dengan penyakit yang dideritanya. Dan, masih banyak lagi manfaat yang lainnya. Atas dasar itulah, telemedicine sudah banyak diaplikasikan oleh berbagai negara di dunia. Misalnya saja di Amerika, Jepang, dan India. Lalu, kenapa telemedicine sepertinya kurang dikenal di Indonesia?
Sebenarnya bukan kurang dikenal. Lebih tepatnya kurang disosialisasikan. Sudah banyak lembaga kesehatan yang mengadakan telemedicine, sebut saja misalnya Pusat Jantung Terpadu RSCM dan FKUI. Seminar tentang telemedicine pun sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak. Hanya saja animo masyarakat terhadap hal ini mungkin lebih kecil dibandingkan animo terhadap bidang lain seperti e-learning atau e-commerce.
Hal lain yang cukup mempengaruhi perkembangan telemedicine adalah tingginya kebutuhan perangkat dan kurangnya tenaga ahli dalam bidang ini. Salah satu contoh adalah telemammografi, yaitu pendeteksian kanker payudara tahap dini. Selain harga perangkat yang cukup mahal, kurangnya tenaga ahli radiologi cukup menyulitkan penyebaran telemammografi di kota-kota kecil. Padahal, bila saja kedua hal ini bisa terpenuhi, jumlah penderita kanker payudara bisa dikurangi karena penanganan yang cepat dan tepat.
Sekiranya hal ini bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk ke depan, agar telemedicine bisa lebih dikembangkan dalam masyarakat. Memang, untuk menuju tahap tersebut bukan hal yang mudah, namun hasil akhirnya bisa dipastikan lebih bermanfaat bagi semua kalangan, baik yang terkait secara langsung ataupun tidak.